Rabu, 09 Agustus 2017

Tudang Sipulung Blogger Anging Mammiri : Serba Serbi Difabel

Sabtu, 5 Agustus 2017 pukul 15.00 bertempat di Sophie Paris Branch Makassar di Jl. Veteran Utara, saya mengikuti kegiatan bulanan Tudang Sipulung yang diselenggarakan oleh komunitas yang paling saya banggakan, yaitu komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri. Kegiatan ini mengangkat topik Serba Serbi Difabel yang menghadirkan 3 orang narasumber yang sangat inspiratif yaitu Abd. Rahman (Direktur Perdik), Ishak (Pendamping Difabel), dan Syarif (Low Vision), serta dimoderatori oleh blogger Makassar andalan kami Dg. Ipul.


Mengenai Difabel, saya kembali flash back pada kegiatan yang pernah komunitas kami organize pada bulan April lalu, yaitu kegiatan kunjungan kami ke kantor PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Pasalnya, salah seorang narasumber yang hadir yaitu Syarif, merupakan salah seorang anggota PERTUNI yang kami edukasi mengenai blog tempo hari. Apalagi, Syarif merupakan teman dari adik sahabat saya sehingga saya tidak begitu asing dengan beliau.


Lanjut ke kegiatan Tudang Sipulung, para narasumber hadir dengan sharingnya berupa edukasi, maupun berupa cerita pengalaman hidup mereka selama ini terkait difabel itu sendiri. Kak Ishak menerangkan dalam slide presentasinya mengenai The Medical Model of Disability bahwa : The Problem is The Disabled Person : Is housebound, Confined to a wheelchair, Can't walk, Can't get up steps Can't walk, Can't see or hear, Is sick Looking for a cure, Has fits, Needs help and carers.

3 Narasumber dan Moderator di Acara Tudang Sipulung Serba Serbi Difabel

Pada kesehariannya, ada banyak persepsi orang-orang dari berbagai macam latar belakang mengenai seseorang yang difabel. Masih dalam slide presentasinya, Kak Ishak menyampaikan:

Saat situasi yang dihadapi adalah seseorang gadis yang berkursi roda, maka:
Orang model Amal/ Kasihan akan bilang, "Kodong, cantiknya mo lagi, tapi berkursi rodak, aih tidak kawinmi ini, tidak bia juga punya anak dan berkeluarga. Kusantuni mi deh."
Orang model Medik akan bilang, "Oh, kamaseangna, haruski ke dokter buat konsultasi, haruski diterapi ini supaya bisaki kerja lagi seperti yang lain."
Orang model Sosial akan bilang, "Supaya bisaki ini aktif juga, harusnya dibuatkanki ini rampa supaya bisa masuk di kelasnya, atau di masjid, atau di manapun."
Orang model berbasis Hak akan bilang, "Wah, kalau dapatki kerjaan ini, perusahaannya mesti siapkan ruang kerja yang akses, karena itu haknya tawwa."

Saat situasi yang dihadapi adalah seseorang lelaki dengan difabel intelektual, maka:
Orang model Amal/ Kasihan akan bilang, "Lihatki, bingung-bingungki kodong, kayaknya keterbelakangan mentalki, bagusnya tinggal di panti supaya ada yang rawatki."
Orang model Medik akan bilang, "Mungkin adaji ini obatnya atau diterapiki supaya bisaki baik-baik pikirannya. Dia harus coba ke psikiater."
Orang model Sosial akan bilang, "Bagus dia kalau hidupki sama-sama saudara dan teman-temanna yang tidak difabel, tidak boleh sendiri terus atau dibiarkan tinggal di rumah saja."
Orang model berbasis Hak akan bilang, "Dimana dia (mau) tinggali? Ayo kita tanyaki!"

Saat situasi yang dihadapi adalah orang tua dengan seorang anak perempuannya yang tuli, maka:
Orang model Amal/ Kasihan akan bilang, "Kodong, pasti sedih sekali orang tuanya narasa anak perempuannya tuli dan tidak bisa mandiri."
Orang model Medik akan bilang, "Saya yakin, suatu saat adaji itu alat bantu mendengar nanti supaya bisaki juga mendengar bae."
Orang model Sosial akan bilang, "Seharusnya kita juga perlu belajar bahasa isyarat supaya bisaki komunikasi sama dia yang tuli."
Orang model berbasis Hak akan bilang, "Kalau sudah besarmi nanti, dia bisa sekolah, harus malah, haknya tawwa!"

Kak Ishak Mempresentasikan Materi Mengenai Difabel

Sambil kami yang hadir menyimak apa yang disampaikan oleh narasumber, kami juga menikmati snack yang diberikan oleh pihak sponsor. Beberapa cerita yang disampaikan oleh para narasumber begitu sangat menginspirasi saya. Salah satunya adalah cerita pengalaman yang disampaikan oleh Syarif, bahwa saat beliau kecil, beliau sempat tidak didukung oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan setelah SMP. Pasalnya, orang tua Syarif mengatakan kepada Syarif bahwa orang-orang di luar sana banyak yang bersekolah tinggi tetapi tidak memiliki kerjaan, banyak yang pengangguran. Daripada menghabiskan uang untuk sekolah dan tidak jadi apa-apa, mending di rumah saja. Namun ternyata hal ini berhasil di tepis oleh Syarif dengan mengatakan kepada orang tuanya, "Sedangkan yang normal saja bisa tidak jadi apa-apa. Apalagi saya, yang sudah cacat, pasti akan lebih parah lagi."

Snack dan Goodie Bag dari Sponsor

Sejak itu Syarif membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia bisa melanjutkan sekolah dengan lebih baik. Yang awalnya saat SMP Syarif bersekolah di SLB, saat SMA Syarief berhasil menembus sekolah negeri di Makassar tepatnya di SMA 6. Bahkan, kuliahpun Syarief juga kembali membuktikan bahwa ia masih bisa tembus di universitas negeri yaitu di UNM. Hebaaat kan? Awalnya bersekolah di tempat umum ia merasa kesulitan, tapi lama-kelamaan akhirnya ia terbiasa bahkan Syarif sempat mengantongi penghargaan Essai Terbaik untuk Rektor UNM yang baru lhoo! Subhanallah.

Kak Abd. Rahman sendiri juga tidak kalah dengan ceritanya yang mengatakan bahwa sebenarnya ia pribadi bahkan orang-orang tuna netra kebanyakan tidak suka jika dikatakan tuna netra. Sebab, arti sebenarnya dari kata tuna adalah rusak. Sementara menurut mereka, ciptaan Tuhan itu tidak ada yang rusak. Semuanya sempurna. Oleh karenanya mereka lebih suka disebut sebagai orang yang buta dibandingkan orang tuna netra.

Itulah beberapa yang bisa saya tuliskan mengenai kegiatan ini. Sebenarnya masih banyak yang disampaikan oleh mereka, namun hanya inilah yang saya ingat banget karena cerita-cerita ini sangat memberi inspirasi tersendiri kepada saya bahwa:Aapalah kita yang normal ini masih sangat sering berkeluh kesah akan keadaan kita. Sementara mereka yang berkekurangan di luar sana dengan perjuangannya membuktikan kepada yang lainnya bahwa mereka bisa. Inilah yang menjadi motivasi saya. Kita diberikan kesempurnaan, sudah seharusnya kita berkarya dan memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Penyerahan Bingkisan kepada 3 Narasumber oleh Moderator Dg. Ipul

Saya Berofoto Dengan Syarif :D

Posting Komentar