Rabu, 19 April 2017

Blogger Anging Mammiri Goes to PERTUNI

Sebagai anggota yang tergabung di komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri alias Paccarita, jujur saja saya sangat senang dan sangat menikmati setiap program kerja atau agenda kegiatan yang diadakan oleh komunitas ini. 😊 Selain bisa mengedukasi anggotanya dengan tudang sipulung yang diadakan setiap minggunya, komunitas ini juga bisa memberdayakan anggotanya untuk belajar berbagi mengenai ilmu literasi kepada komunitas, organisasi, termasuk sekolah sekalipun. Nah, tepat di hari Jumat yakni 14 April 2017, saya bersama teman-teman Blogger Makassar mengadakan sebuah kegiatan yang dinamakan Blogger Anging Mammiri Goes to PERTUNI. PERTUNI sendiri adalah organisasi perkumpulan Tuna Netra yang tersebar disetiap provinsi di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. 😎
Flashback sedikit, jadi awalnya setelah rapat kecil antar pengurus yang sempat kami adakan di Kedai Pojok Adhyaksa sebelumnya, telah disepakati bahwa saya akan menjadi penanggung jawab di program kerja "AM Goes to School" ini. 😁 Nah, kak Nunu (Ketua Blogger Anging Mammiri) menyarankan kepada saya untuk menghubungi salah satu kontak yang ia punya, yang tergabung dalam suatu perkumpulan Tuna Netra untuk kami datangi menuntaskan proker ini. Awalnya saya tidak tahu apakah ini nantinya akan pelatihan ke SLB (Sekolah Luar Biasa) atau ke komunitas Tuna Netra atau kemana. Saya hanya diberi nomor kontak bernama kak Dacong yang juga merupakan keluarga dekat dari senior kami di Blogger AM yaitu Oppa Lebug alias kak Anchu. 😀

Nomor sudah ditangan, sayapun menghubungi kak Dacong untuk menanyakan mengenai kunjungan Blogger Makassar ke komunitas Tuna Netra nantinya. Dari pembahasan itulah akhirnya saya mengetahui bahwa yang akan menjadi sasaran kami nantinya adalah PERTUNI, yakni organisasi Persatuan Tuna Netra Indonesia SulSel. 😎 Tanggal 11 April pun saya kemudian mengunjungi kantor PERTUNI SulSel di Jl. Kapten. P. Tendean Blok M/2 Makassar. Walaupun saya kesana sendiri, alhamdulillah teman-teman PERTUNI menyambut baik kedatangan saya. 😄 Saya bicara dengan ketua, sekretaris, hingga ke anggota-anggota PERTUNI SulSel lainnya untuk membahas pelatihan seperti apa yang mereka inginkan untuk kami para Blogger adakan nantinya. Dari hasil pembicaraan, akhirnya kami sepakat mengadakan pelatihan menulis efektif tanggal 14 April 2017 bertempat di Aula PERTUNI. 😊
Fotonya kurang jelas, saat membahas mengenai pelatihan menulis bersama anggota PERTUNI SulSel
Hari H, saya bersama kak Nunu (Ketua Blogger Anging Mammiri) pukul 8 pagi lewat sudah berada di kantor PERTUNI. 😊 Oke, setibanya disana bersama kak Nunu, saya langsung ke Aula untuk melihat persiapan yang organisasi PERTUNI lakukan. Dan kalian tahu apa? Para cewek-cewek tuna netra itu sedang menyapu membersihkan Aula. 😃 Menariknya yah karena mereka tidak bisa melihat apa yang mereka sapu. Entah saya tidak mengerti, bagaimana cara mereka berkoordinasi sehingga akhirnya tempat yang awalnya kotor tsb bisa jadi kinclong setelah mereka bersihkan. Sepintas ada yang berteriak, "Bagian ini sudah di sapu?" yang lain menjawab "Sudah", "Belum". Lucu juga. 😆 Mereka melepas alas kaki mereka agar bisa merasakan kotoran yang mereka injak di lantai Aula. Jika merasa berdebu, mereka akan sapu kotorannya sampai keluar. Dan tentunya sepanjang saya mengamati, mereka tidak tahu akan kehadiran saya didepan pintu memperhatikan mereka. Mereka hanya sibuk menyapu sambil bercakap-cakap. Sampai akhirnya saya sudah merasa waktunya saya bicara kepada mereka, sayapun menyapa salah seorang cewek disitu yang bernama Rizka, kalau saya Yani dari Blogger sudah ada di tempat mereka. 😉

Rizka kemudian memanggil Syarif (Sekretaris PERTUNI SulSel) untuk menemui saya dan kak Nunu di Aula. Waktu itu teman-teman blogger lainnya belum datang. Sambil menunggu teman-teman yang lain, Syarif membawa kami ke sebuah ruangan yang biasa jadi tempat nongkrong mereka. 😄 Dalam ruangan itu, terdapat ruangan lagi yang berisi komputer lengkap dengan set print-nya. Sebelumnya, kami dari Blogger memang menugaskan kepada anggota PERTUNI yang ingin mengikuti pelatihan untuk membuat sebuah tulisan atau artikel dulu untuk mengetahui tingkatan mereka dalam menulis disamping itu agar kami bisa mengoreksinya juga saat pelatihan nanti. Maka, sambil kak Nunu berbincang dengan Ketua PERTUNI yang bernama Kashmir, teman-teman PERTUNI lainnya sibuk nge-print tulisan yang telah mereka buat. 😅 Mereka lalu lalang terlihat seperti orang normal kebanyakan. Cuma ada sekali dua kali saja ada yang tersandung karena aturan kursi kami para blogger yang menghalangi aktifitas mereka. 😁 Selebihnya, mereka normal. Bagi orang awam yang baru mengenal mereka, saya sudah pasti jamin kalau orang awam ini tidak akan sadar kalau mereka tidak bisa melihat. 😊
Kak Nunu berbincang dengan Ketua PERTUNI SulSel, Kak Kashmir
Ruangan komputer tempat peserta pelatihan (PERTUNI) mencetak tulisan mereka
Saya jadi ingat kejadian tempo hari saat berkunjung pertama kali ke PERTUNI. Flashback lagi yaaak. 😅 Saya yang disambut dengan cerita-cerita hangat mereka, tidak sadar kalau mereka sepenuhnya tidak bisa melihat. Saya pikir, kebutaan mereka tidak parah, dalam artian mereka masih bisa melihat sedikit walaupun mereka tuna netra. Apalagi Syarif yang merupakan sekretaris PERTUNI. Matanya sayu. Sekilas terlihat seperti mata normal. Tapi ternyata dia tidak melihat sama sekali. 😎 Yang awalnya saya mengira matanya masih bisa melihat secara normal karena matanya selalu tertuju ke arah yang berbicara (kami ngobrol rame-rame saat itu), akhirnya belakangan saya jadi tahu bahwa dia tidak bisa melihat saat saya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya. Saya bingung, kok tangan saya tidak disambut. 😔 Sampai akhirnya ada pendamping yang memang normal (betul-betul normal) menegur saya bahwa semuanya di ruangan itu tidak bisa melihat. 😮 Kalau mau jabat tangan, tangan mereka harus disentuh agar mereka tahu kalau kita akan menjabat tangan mereka. OMG, saya langsung merinding saat itu karena kelakuan mereka benar-benar terlihat seperti orang normal. Allah benar-benar kuasa. Subhanallah. 😍
Back to topic, tulisan akhirnya dikumpulkan ke tim Blogger, dan kami mulai menganalisis tulisan mereka satu per satu. Dari tulisan yang mereka buat, saya cukup dibuat merinding 'lagi', karena ada beberapa tulisan yang sangat bagus saya temui. 😃 Seperti milik Syarif (Syarif di PERTUNI ada dua orang, tapi yang saya maksud disini adalah Syarif yang kuliah di UNM), yang judulnya "Penyandang Disabilitas Juga Butuh Pendidikan, Prof!" Walaupun ada beberapa kesalahan tanda baca di tulisannya, namun tulisannya itu begitu sangat baik menurut saya. Saking baiknya ia bahkan pernah meraih penghargaan untuk kategori Essai Terbaik dalam lomba Menulis Essai untuk Rektor Baru UNM. 😃 Selain Syarif, adapula tulisan dari beberapa teman PERTUNI lainnya, saya lupa namanya, tapi intinya dia menuliskan tentang bagaimana cara mendeteksi uang palsu untuk Tuna Netra, dan ada juga yang menuliskan tentang pengalaman pribadi bagaimana dia bisa mendapatkan musibah kebutaan di masa lalu. Sumpah, saya super duper kagum dengan tulisan-tulisan mereka. 😍
Tulisan Essai yang keren banget oleh Syarif
Pelatihanpun dimulai, dan kak Nunu membuka acara pelatihan ini dengan perkenalan. Setelah anggota Blogger memperkenalkan diri yang dimulai dari kak Nunu, kak Bimo, kak Ifa, kak Fitri, kak Tami, kak Evhy, saya, dan kak Fadli, gantian anggota PERTUNI maju memperkenalkan diri. 😀 Perkenalan diri mereka pun unik-unik. Ada yang suka dengan menanam, menyanyi, suka dengan tantangan, dll. Yang sangat berkesan sih, saat Rizka maju kedepan memperkenalkan tentang dirinya bahwa ia sangat suka dengan hal yang berbau melankolis. Ia suka dengan Korea, termasuk film-filmnya, dan ia juga menyatakan suka membuat puisi, terutama untuk Kashmir. Ternyata, ia dan Kashmir si Ketua PERTUNI SulSel adalah suami istri. OMG! So Sweet. 😍 Saya jadi terharu begitu mendengarnya. Ternyata keterbatasan mereka itu bisa saling mengisi satu sama lain. Jadi baper. Hiks. 😢
Pelatihan Menulis Efektif dibawakan oleh Kak Nunu. Itu pesertanya semua rata-rata ada pegang Laptop. 😎
Rizka sedang melayani Suaminya, Kashmir (Ketua PERTUNI SulSel) saat jam istirahat dan makan siang
Suasana kelas yang dihadiri oleh para Tuna Netra yang mencapai hampir 20 orang, sangat membuat kami antusias dalam berbagi karena mereka sangat tertarik dengan apa yang kami bawakan. 😊 Setelah kak Nunu membawa materi mengenai pelatihan menulis efektif, kak Bimo maju ke depan untuk mengoreksi tulisan artikel yang dia pegang dari salah satu anggota PERTUNI. 😌 Isinya kurang lebih mengenai pengalaman pribadinya saat pertama kali ia mendapat musibah tidak bisa melihat tsb. Saya lupa namanya siapa. Yang jelas, dari tulisannya, beberapa yang dikoreksi seperti akronim kata, tanda baca, diksi kata, dll. 😅

Waktu menunjukkan pukul 12.00, saatnya bagi laki-laki muslim mempersiapkan dirinya untuk shalat Jumat. Maka pelatihan ini kemudian dijeda sampai setelah shalat dan istirahat makan siang. 😊 Saat makan siang para cewek-cewek PERTUNI membawakan kami makanan untuk kami santap. Ya ampun, saya sangat terharu dengan mereka yang begitu baik telah menyediakan kami makanan. Keterbatasan mereka itu masih membuat mereka sempat untuk melayani kami. Padahal, seharusnya kami yang normal-lah yang melayani mereka. 😓

Saat istirahat setelah makan dan waktu shalat, saya memperhatikan para peserta ada yang cerita-cerita, ada yang asyik mengetik entah apa yang diketiknya di laptop, adapula yang sibuk dengan handphone-nya. Yang buat saya tertarik adalah peserta yang mengetik laptop itu lho. 😃 Layarnya gelap, tapi ketikannya begitu lancar. Sekedar info, laptopnya tidak mati lho. Cuma memang layarnya saja yang digelapkan. 😎 Saat kelas dimulaipun, tidak sedikit peserta yang mencatat apa yang kami sampaikan di laptopnya, dengan alat bantu headset yang mereka pasang di salah satu telinga mereka, mereka menjadi termudahkan dalam mengoperasikan laptop. Maklum, karena tidak bisa melihat, maka audiolah yang membatu mereka untuk menggunakan laptop. 💪

Setelah istirahat, akhirnya peserta dibagi menjadi 3 kelompok, yang kelompok tsb dibagi berdasarkan intensitas mereka dalam menulis atau membuat artikel. Kelompok 1 untuk yang baru mau belajar menulis, kelompok 2 untuk yang tingkat menengah dalam menulis, dan kelompok 3 untuk yang sudah pernah beberapa kali membuat artikel. 😀 Saya sendiri menjadi pendamping untuk kelompok 2 yang orang-orangnya tingkat menengah dalam dunia kepenulisan. Selain saya, ada kak Tami, ada juga kak Evhy. Disini kami lebih ke sesi konsultasi begitulah. 😅 Ada yang menanyakan mengenai EYD, ada juga mengenai pemberian judul yang tepat, bahkan ada juga yang memberikan saran untuk Blogger Anging Mammiri kedepannya. Pokoknya mereka keren-keren. Disinilah ajang kami para blogger untuk mengasah pengetahuan kami di bidang kepenulisan. 😎 Jika ada yang kami tidak ketahui saat peserta bertanya, kami tidak segan untuk bilang tidak tahu, dan lalu kemudian kami browsing di internet untuk mencari tahu tentunya dengan sumber yang jelas. Alhamdulillah peserta mengerti dengan keterbatasan kami yang belum khatam di bidang kepenulisan. 😓 Sehingga, sesi ini seperti layaknya sharing satu sama lain.
Sesi Konsultasi mengenai Kepenulisan
Di akhir pelatihan, tak lupa kami berfoto bersama. Sayangnya beberapa peserta tidak ikut foto bersama karena ada hal lain yang akan dikerjakannya. 😢 Tapi intinya, mereka terlihat senang dengan kehadiran kami. Kami juga memberi mereka tugas untuk membuat sebuah artikel mengenai harapan mereka terhadap Indonesia yang dikumpulkan paling lambat tanggal 21 April ini. 😊 Saya begitu senang bisa berpartisipasi di acara ini. Saya jadi belajar banyak dari mereka mengenai kehidupan. Sudah seharusnya kita yang normal mesti bersyukur. 😌 Aaargh! Rasanya masih ingin ngumpul bareng mereka lagi. Semoga dilain kesempatan saya bersama komunitas lain bisa bekerjasama dengan PERTUNI. Aamiin. Love you PERTUNI. 😘
Posting Komentar