Friday, October 12, 2018

Ceritaku dan Keluarga Saat Gempa dan Tsunami Kota Palu

Rasanya seperti ngga percaya kampung halaman saya sekarang sedang hancur-hancurnya akibat terjangan gempa dan tsunami pada Jumat sore, 28 September 2018. Walaupun sampai hari ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota Palu, namun setahun sekali saya pasti selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung, pulang ke rumah untuk ketemu keluarga, ketemu Mama dan ketiga adik saya.



Sebagai anak pertama yang lahir dari empat bersaudara, saya merasa punya tanggung jawab besar untuk menjadi tulang punggung keluarga sejak Papa saya meninggal di tahun 2003 silam. Sedih rasanya saya mengingat momen itu karena status mama saya yang hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa, sementara saya masih punya tiga adik yang perlu banyak biaya untuk sekolah.


Dan ketika bencana besar itu melanda Palu, saya merasa ditampar karena hingga saat hari itu terjadi saya merasa belum sepenuhnya menjadi anak yang baik, kakak yang baik, dan juga hamba yang baik. Seketika saya tersigap dan sadar bahwa ternyata waktu yang kita miliki di dunia ini hanyalah sedikit. Bahkan, ajalpun saat itu terasa seperti di depan mata. Walaupun saya ngga ada di Palu saat hari kejadian, namun guncangan gempa 7,4 SR sangat terasa di kota tempat saya berada yaitu kota Mamuju, Sulawesi Barat.

Jarak tempat saya di Mamuju dari Palu
(sumber : Google Maps)

Yang ada dipikiran saya saat itu hanya keluarga saya yang ada di Palu.
Bagaimana mereka? Apakah mereka masih hidup?

Ngungsi ke Gunung

Jumat sore, 28 September 2018 sepulang kantor, saya sedang di kamar dengan pakaian santai ala kadarnya, lagi ngemil diatas tempat tidur. Saya ngga tahu pastinya jam berapa (pastinya menjelang maghrib), sementara asyik-asyiknya menikmati cemilan, gempa itupun datang. Gempa itu cukup lama dan lebih keras dari gempa-gempa sebelumnya yang pernah saya rasakan di Mamuju. Saya bisa bilang seperti itu karena gempa tsb terus terjadi selama saya mencari mukenah shalat untuk dikenakan keluar rumah, dan juga mencari kunci rumah yang tercecer di kamar tidur.

Baca : Jadi Arsitek di Bandara Mamuju

Saya dengan teman serumah saya yang bernama Tendri paniknya luar biasa. Kami langsung keluar rumah (by the way kami tinggal di perumahan Bandar Udara Tampa Padang Mamuju). Di luar rumah, sudah banyak orang-orang kompleks berkerumun. Listrik seketika padam. Saya langsung buka situs BMKG, dan mendapati pusat gempa berada di Sulawesi Tengah, dan begitu shocknya saya ketika melihat warning dari BMKG bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami.

Info gempa potensi tsunami di Palu
(sumber : BMKG)

FYI, Kawasan Bandar Udara Mamuju yang menjadi tempat saya kerja dan tinggal sekarang sangat dekat dengan laut. Saya begitu takut kalau-kalau tsunami melanda tempat saya. Langsung saja saya menghubungi keluarga di Palu untuk menenangkan diri sekaligus ingin menanyakan keadaan mereka. Sayangnya hasilnya zonk. Chat di whatsapp hanya centang satu. Saya telepon nomor adik saya malah tidak aktif. Apa yang terjadi? Jantung saya mau copot rasanya. Belum lagi masyarakat sekitar sampai berbondong-bondong ngungsi ke gunung sehingga saya dan teman serumah saya pun ikut ngungsi juga disana hingga pukul 10.00 malam.

Runwaynya bandara Mamuju deket banget sama laut kan?

Akhirnya Dapat Kabar dari Keluarga

Kecemasan saya akhirnya sedikit berkurang setelah pulang dari gunung, tiba di rumah, dan mendapati adik saya Nisa (adik no. 2) yang sementara KKN di daerah Pantoloan Palu (daerah pelabuhan) menghubungi saya di nomor handphone saya. Dia menginfokan bahwa dirinya baik-baik saja bersama teman-teman KKN-nya.

Baik-baik? Hmmm. Sulit rasanya percaya bahwa keluarga saya di Palu termasuk Nisa dalam keadaan baik dalam keadaan listrik padam, dan signal sangat jelek. Mereka tidur beratapkan langit dan beralaskan tanah coyy. Nisa nangis-nangis di telepon dan terus mengatakan bahwa dia takut tsunami datang ke tempatnya sementara saat itu gempa masih terus berdatangan. Adik saya sampai minta maaf ke saya atas segala kesalahannya selama ini ke saya begitupun sebaliknya, seolah-olah hari itu adalah hari dimana ajal dia dijemput. Saya nangis minta ampun malam itu. Saya dibikin tidak bisa tidur.

Pesan whatsapp Yuli ke saya

Sementara Yuli (adik no. 1), smsnya masuk menjelang subuh. Dia menginfokan bahwa dia, Mama dan Anto (adik no. 3) juga baik-baik saja, namun bibir Mama katanya sempat terluka akibat hantaman tembok. Adapun rumah, alhamdulillah tidak separah rumah di daerah Balaroa dan Petobo. Hanya saja rumah itu tidak bisa dihuni dulu karena atapnya beberapa ada yang rubuh dan tembok jadi retak. Perabot rumah juga beberapa ada yang hancur seperti tv, lemari, terutama dapur yang plafondnya ikut rubuh.


Proses Evakuasi

Kalian pikir saya bisa anteng-anteng aja di Mamuju saat kejadian itu menimpa keluarga saya? No way. Saya memutuskan untuk ke Makassar keesokan harinya, Sabtu sore 29 September 2018, dengan harapan Mama beserta ketiga adik saya bisa dipermudah untuk dievakuasi ke Makassar. Saya sampai ijin cuti 1 minggu ke bos saya saking saya ngga mau sama sekali mikirin kerjaan.

Setibanya saya di Makassar, saya terus berkomunikasi dengan mereka supaya mereka bisa secepatnya ke Makassar. Mungkin kalau Nisa ngga terpisah dari rumah saat gempa terjadi, mereka bisa cepat tiba di Makassar menggunakan pesawat hercules. Apalagi lokasi bandara sangat dekat dari rumah. Sayangnya ngga semudah itu. Sekitar 2 hari dari tanggal 28 September baru Nisa bisa kembali ke rumah setelah dibawa oleh pihak Basarnas dari lokasi KKN-nya. Dan juga, ternyata makin hari proses evakuasi melalui jalur udara semakin mustahil untuk ditempuh karena begitu padatnya masyarakat Palu yang ingin segera keluar dari kota tsb. Saking padatnya, penerbangan sempat dihentikan beberapa saat karena sikap mereka yang cukup brutal. Sayapun akhirnya memikirkan cara lain, yaitu bagimana caranya mereka bisa keluar Palu melalui jalur darat.

SMS Yuli ke saya sebelum Nisa tiba di rumah.

Saya telepon sana sini, post info sana sini, akhirnya ada juga seseorang bersama rekannya yang bersedia membantu mengevakuasi 4 orang anggota keluarga saya keluar Palu menuju Makassar. Sebut saja namanya Pak A dan Pak B. Mereka sudah 2 kali ke Palu untuk keperluan logistik pasca musibah tsb. Jadi, ceritanya mereka berdua ini ditugaskan untuk mengantar barang logistik ke Palu dengan sebuah mobil, yang isinya bisa menampung 5 orang. Setelah barang turun, barulah mereka bisa menjemput keluarga saya di rumah untuk dibawa ke Makassar. Jujur saja, saya ngga mengenal sama sekali dua orang ini karena mereka berdua hanya mendapatkan informasi di sosial media bahwa saya butuh bantuan mereka, dan merekapun bersedia menolong.

Awalnya saya sempat curiga takut Pak A dan Pak B ini adalah orang yang ngga baik, yang mungkin saja bisa memanfaatkan segala cara meski dalam keadaan sulit. You know what I mean. Gimana ngga, soalnya pas saya teleponan dengan Pak A, tidak ada sama sekali kata "duit" yang keluar dari mulut beliau. Eh, ternyata belakangan mereka minta uang ke Mama saya sebanyak 2,5 juta rupiah untuk tarif angkutannya. I don't know what to say.

Kami pun Berkumpul

Mereka pun berangkat 1 Oktober 2018 di malam hari, dan tiba di Makassar 2 Oktober 2018 menjelang tengah malam. Kosan yang sudah saya sewa juga sudah siap untuk ditempati. Alhamdulillah bapak kos nya baik, membolehkan kami berlima tinggal dalam kamar kosan tersebut untuk sementara.

Tempat keluarga saya ngekos untuk sementara

Dan saat keluarga saya tiba, udah pasti saya seneng banget. Mama pas tiba di kamar langsung nonton TV, dan seketika kaget minta ampun karena melihat kota Palu yang sangat hancur. Mereka sangat tidak menyangka Palu sehancur itu. Apalagi untuk wilayah perumahan Balaroa dan Petobo, semuanya hancur tak bersisa. Fyi, Petobo dari rumah cukup dekat, karena berada di wilayah yang sama yaitu Palu Selatan. Malam itu kami tidur sangat larut menjelang subuh karena terlalu asyik bercerita perihal musibah gempa dan tsunami tsb. 

Mama, Yuli, Nisa dan Anto cerita apa yang terjadi sesaat sebelum gempa terjadi.

Sore itu, Jumat 28 September 2018, azan magrib berkumandang. Posisinya, mama sedang duduk di teras rumah sambil asyik bercerita dengan om yang kebetulan tinggal disamping rumah. Kalau Yuli, sedang menuju kamar mandi di dalam rumah. Nisa, sedang berada di lokasi KKN. Adapun Anto, sedang diatas motor dalam perjalanan menuju masjid. 
Di pertengahan azan, gempa besar datang. Mama langsung keluar rumah menyelamatkan diri, Yuli yang menuju kamar mandi terpaksa harus merangkak keluar rumah karena berdiripun saat itu dia tidak sanggup akibat guncangan gempa yang begitu keras, Nisa juga ikut menyelamatkan diri di lokasi KKN-nya bersama teman-temannya, dan Anto yang sedang diatas motor seketika jatuh dan langsung melarikan diri ke tempat tinggi setelah menyaksikan dinding pagar kantor rubuh ke jalanan yang akan dilaluinya.

Astagfirullah. Saat itu semuanya langsung ingat Allah. Musibah sudah terjadi. Dan kalian tahu ngga, sebagian perasaan saya merasa sangat bersyukur. Kenapa?

Saya dan Mama

Kalau mau dipikir, sebenarnya posisi keluarga saya saat musibah tsb terjadi masih sangat menguntungkan. Ya, karena apa jadinya kalau Mama saya yang lemah masih ada di dalam rumah ketika gempa itu datang? Mungkin saja Mama akan tertimpa sesuatu yang bisa mengancam hidupnya. Apa jadinya kalau Yuli sudah terlanjur mandi di dalam kamar mandi ketika gempa itu datang? Masih adakah waktunya untuk menyelamatkan diri sementara dia harus mengenakan pakaian lagi?

Apa jadinya kalau Nisa tidak bersama teman KKN-nya? Tempat Nisa KKN itu di daerah pelabuhan lho. Kalau kalian pernah lihat di TV pemberitaan gempa dan tsunami Palu yang ada kapal terhempas ke daratan akibat tsunami, disitulah lokasi Nisa ber-KKN. Untung saat itu Nisa mampir ke rumah  keluarga teman KKN-nya yang dekat dari posko KKN-nya, sehingga ketika bencana datang mereka langsung melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi menggunakan mobil keluarga temannya tsb.

Sementara Anto, apa jadinya kalau beberapa langkah saja dia berada di jalanan yang dijatuhi dinding pagar perkantoran? Jarak antara dinding yang jatuh dengan posisi Anto yang terjatuh dari motor itu deket banget lho. Atau, apa jadinya kalau Anto lebih awal tiba di masjid? Karena dari info yang saya terima dari mereka, orang-orang yang berada di masjid banyak yang mengalami luka-luka, bahkan muadzinnya mengalami patah kaki.

Dari kiri ke kanan : Saya, Yuli, Nisa, Anto


Jadiii...

Setelah kejadian itu semua, ada satu hal yang terus nancep di kepala saya, yaitu Kematian. Jujur sebelum musibah besar ini terjadi, yang namanya kematian itu ngga begitu saya pikirin. Ya, kalian taulah kita semua umumnya berfikir bahwa ajal itu masih jauh. Masih sempat lah yah senang-senang melakukan ini itu yang mungkin saja Allah ngga ridho atau meninggalkan kewajiban kita sebagai hamba Allah. Tapi setelah musibah tsb terjadi, kematian tuh rasanya kayak di depan mata. Mau lari kemana kalau sudah ajalnya yah sudah pasti mati. Sudah ngga ada waktu untuk minta ampun menebus kesalahan yang lalu-lalu. Dan kalau sudah begitu, apa yang akan jadi bekal kita di akhirat nanti?
Post a Comment