Saturday, August 11, 2018

5 Hal Aneh Yang Saya Temui Di Kota Mamasa

Omaigat, rasanya udah lamaaa banget saya ngga nulis di blog ini. Sebenarnya bukan karena ngga ada bahan untuk nulis sih, tapi karena saya pengen aja coba ngga terkontaminasi sama sosmed selama sebulan belakangan. Dan hasilnya, kangen bangeeeeet. Alhamdulillah di Agustus ini saya bisa kembali nulis.


Well, di tulisan kali ini saya pengen cerita mengenai 5 hal aneh apa aja yang saya temui selama berada di kota Mamasa. Yakni kota yang berada di provinsi Sulawesi Barat, sekitar 340 km dari kota Makassar.


1. Bisa Ngerasain Pedesaan Swiss


Swiss? Emang lo udah ke Swiss sampe lo ngomong seolah-olah Mamasa itu Swiss? 😂 Saya tau banget, pasti banyak dari kalian yang akan bertanya seperti itu. Emang kenapa? Salah yah kalo saya bilang serasa di Swiss? 😅

Tadinya nih yah, perjalanan dari Mamuju menuju Mamasa saya pikir akan biasa-biasa aja. Apalagi banyak teman kantor yang bilang jalanan menuju kesana itu jelek banget. Kita bisa terguncang-guncang sampai mabok di perjalanan. Bahkan kata mereka, kita pasti ngga akan bisa tidur selama di perjalanan karena kondisi jalannya yang jelek. Fyi, jarak Mamuju ke Mamasa itu bisa menghabiskan 3 jam lebih perjalanan.


Tapi apa yang mereka ramalkan sebelumnya, itu ngga sepenuhnya terjadi di saya pemirsah. Saya tetap bisa tidur nyenyak kok. 😂

Emang bener, jalanannya jelek karena kondisinya lagi sementara perbaikan. Sepanjang perjalanan menuju ke Mamasa, saya banyak melihat angkutan material dan alat berat yang menandakan bahwa jalan tsb lagi dibenahi.

Pemandangan Seperti Ini Yang Diomongin Orang-Orang Seperti Pedesaan Swiss
dok : www.mytrip.co.id

Tapi yang bikin saya ngga nyangka adalah, pemandangan yang saya lihat itu lho, cantik banget. Pake bangeeeeet cantiknya. Jujur aja saya hanya bisa mengagumi pemandangan itu dalam hati. Sebenarnya saya mau ngobrolin mengenai pemandangan-pemandangan itu sih sama temen-temen kantor yang semobil, tapi kondisinya saya lagi ngga mood banget soalnya dikit-dikit kepala ini kebentur kaca mobil. 😓

So, once again saya cuma bisa mengagumi pemandangan itu dalam hati. Saya ngerasa pemandangan tsb seperti pemandangan di film-film luar negeri lho. Beneran.

Wisata Diatas Awan Puncak Gunung Kalua | dok : www.kompas.com

Sampai akhirnya ketika saya balik ke Mamuju, saya googling tentang Mamasa, saya nemu artikel yang judulnya "Mau Merasakan Suasana Pedesaan Swiss? Datanglah ke Mamasa!" Seketika saya langsung connect ke pemandangan cantik itu.

Nah kaaan? Apa gue bilang. Emang pemandangan di Mamasa itu kayak pemandangan di luar negeri. Ternyata luar negerinya Swiss toh. 😅 Bukan hanya itu, Mamasa juga terkenal dengan wisata diatas awannya lho.


2. Bandaranya Ngga Beroperasi


Cerita dulu yaaaw... 😁

Sebenarnya, saya bisa pergi ke kota Mamasa ini karena ngga sengaja. Berawal dari rekan kerja senior sekaligus atasan saya, meminta saya untuk membantunya membuat format laporan yang harus beres secepatnya. Pokoknya 2 3 hari kedepan formatnya harus sudah selesai. Eh ternyata atasan saya ini besoknya musti survei di Bandara Sumarorong Mamasa (Fyi : Bandara ini masih Satker dengan Bandara Tampa Padang Mamuju). Padahal, pekerjaan yang akan saya kerjakan ini ngga bisa jadi kalau ngga diarahin oleh beliau. By the way, atasan saya ini namanya Mba Lina, backgroundnya Teknik Sipil.

Maka jadilah saya disuruh ikut juga ke Bandara Sumarorong supaya format laporan itu beres secepatnya. Aseeek. Bisa sekalian liburan nih. 😆

Saya, Mba Lina dan Teman-Teman Kontraktor di Depan Terminal Bandara Sumarorong

Hari Kamis, tepatnya 15 Juli 2018 menjadi waktu dimana kami berangkat menuju Bandara Sumarorong di Mamasa. Kami disana selama 3 hari.

Lagi-lagi, yang namanya bandara, saya pikir yah akan ada penerbangan ketika saya tiba di bandara tsb. Saya juga ngga kepikiran nanya-nanya sama temen kantor seperti apa kondisi bandara tsb saat ini. Yah karena itu tadi, saya pikir bandaranya akan seperti bandara normal kebanyakan. Tapi ternyata ngga guys. Penerbangan itu ngga saya temukan disana. Bahkan saat masuk ke kawasan Bandara Sumarorong, suasananya sunyi senyap, dikit lagi horror. Padahal, dari segi penampilan Bandara Sumarorong ini lebih terlihat modern ketimbang Bandara Tampa Padang Mamuju saat ini.

Terminal Bandara Sumarorong | dok : www.transtipo.com

Terminal Bandara Tampa Padang Mamuju | dok : www.kotamamuju.com

Selidik selidik, ternyata makin kesini minat penumpang untuk naik pesawat semakin berkurang sehingga pihak maskapai menghentikan operasinya sejak 2017. Terutama sejak pasca terjadinya kecelakaan pesawat perintis Avia Star di Palopo yang merupakan pesawat dengan rute Sumarorong.

Tapi tenang aja guys, sementara ini pihak Dinas Perhubungan Mamasa melakukan kajian, dan masih memikirkan cara untuk meningkatkan kembali minat masyarakat menggunakan pesawat di bandara tsb. Pas aku nanya ke Mba Lina juga, beliau bilang kalau ngga tahun ini, semoga tahun depan bandaranya bisa beroperasi lagi. 😊


3. Cuaca Panas, Tapi Airnya Dingin Banget


"Yan, kesana jangan lupa bawa selimut tebal. Bawa jaket."

Itulah pesen teman-teman kantor untuk ngingetin saya jangan sampe lupa dengan hal penting tsb. Saya sempat mikir, seperti apa sih dinginnya Mamasa ini? Ada temen kantor yang bilang kalo disana itu dinginnya lebih parah dari Malino, bahkan kita bisa berasa di luar negeri karena setiap ngomong itu keluar asap. Asap apaan, emang ngerokok? 😂

Kota Mamasa | dok : www.orangbilang.com

Dan faktanya, setelah saya tiba disana ternyata cuacanya ngga sedingin itu kok. Malah saat itu cuacanya panas. Memang benar ada disaat lain, cuaca di Mamasa itu bisa dingin banget. Tapi syukurlah, jadwal saya kesana cuacanya bersahabat.

Hingga kemudian...

Sumpah, saya kaget banget pas buang air disana pertama kali. Airnya dingiiiiin. Sepintas saya mikir, ah mungkin emang air di rumah ini aja yang dingin. Waktu itu posisinya saya sama temen-temen kantor lagi makan siang di sebuah penginapan. Eh, pas kembali ke rumah dinas yang kita tempati di Sumarorong, ternyata airnya juga dingin. Bahkan lebih dingin dari air di penginapan tadi. Gila, cuaca panas aja bisa sedingin ini apalagi kalo musim hujan ya.

Suasana Depan Rumah Yang Saya Tempati di Kawasan Bandara Sumarorong

Saya Lagi di Teras Rumah Kawasan Bandara Sumarorong

Dari sini akhirnya saya cari tau di google kenapa bisa seperti itu. Ternyata Mamasa ini merupakan salah satu kota dari 10 kota terdingin di Indonesia. Gimana ngga, Mamasa ini terletak di daerah pegunungan dengan puncak tertinggi mencapai 1900 m, dan rata-rata ketinggian tanah di Mamasa 1200 m dari permukaan air laut. Dan juga, air-air yang mengalir ke rumah-rumah disana berasal dari  air gunung sehingga benar-benar bersih. Pantesan bisa dingin begitu. 😅


4. Kain Tenun Yang Mendunia


Meski ngga setenar Toraja, tapi tenun di Mamasa ini punya ciri khas tersendiri. Mulai dari sisi representasi budaya masyarakat, keindahan tata warna, motif dan hiasannya, ngga heran banyak banget lho orang yang tertarik dengan tenun tsb.

Ini jujur aneh banget sih pas pertama tau kalau kain tenun Mamasa ini sampai bisa terkenal hingga mancanegara. Soalnya selama ini saya tau tentang kain tenun mendunia dari Sulawesi itu cuma kain tenun Toraja aja. Ternyataaaa, oh ternyataaa. Mamasa hebat juga. Bangga banget sama kota satu ini. 👏

Kain Tenun di Mamasa | dok : www.brilio.net

Apalagi, ternyata Mamasa ini merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang masih menggunakan teknik tenun tertua yakni tenun kartu (pallawa), juga ada mangkabi (mengepang). Saya baru tau hal ini setelah sebelumnya coba googling mengenai tenun Mamasa. Soalnya Kepala Bandara yang saat itu berangkat semobil bareng kami bilang kalo kainnya cakep-cakep.

Sayang banget waktu ke Mamasa saya ngga sempat beli kain tenun ini. Rencananya mau beli pas perjalanan pulang ke Mamuju. Eh, tau-tau jadinya lupa dan terlanjur ketiduran. 😅


5. Patung Bunda Maria Tertinggi Se-Asia Tenggara


Lagi asyik-asyiknya tidur di mobil pas perjalanan pulang, tiba-tiba teman bangunin untuk mampir sebentar ke patung Bunda Maria. Jujur perasaan ini udah kesel campur penasaran. Kesel karena lagi ngantuk-ngantuknya malah dibangunin. Yowess, ngga papa, soalnya saya penasaran juga sama patung tsb. 😁

Maka masuklah saya ke area tempat dimana patung itu berada, yang berlokasi di Bukit Pena, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa.

Patung Bunda Maria Tertinggi Se-Asia Tenggara

Gua Terletak di Sebelah Patung Bunda Maria

Tempat Duduk Umat Katolik Yang Disediakan

Karena ini tempatnya merupakan tempat ibadah umat katolik di Mamasa, jadi kita ngga boleh sembarangan saat ada di tempat ini. Ada aturan yang mesti kita taati, seperti dilarang menyentuh tiap patung di sekitar gua dan sepanjang rute jalan salib.

Pas masuk ke area patung Bunda Maria, saya seneng banget sih karena tempatnya yang indah, dan berada di ketinggian. Ditambah, ngeliat patung Bunda Maria tsb, saya makin merasa tempat itu adalah tempat yang sakral. Gimana ngga, patung tsb tingginya hampir 30 m. 

Beberapa Yang Bisa Ditemui Sepanjang Berada di Bukit Pena

Ini Patung yang Paling Akhir Ditemui Ketika Berjalan di Sepanjang Area tsb

Kalau mau jalan yang lebih jauh lagi, kita akan menemukan patung-patung yang lebih banyak lagi di sepanjang jalan. Patung-patung ini dibentuk dengan beragam pose yang menceritakan peristiwa/ perjalanan yang penuh siksaan menuju tiang salib. Yap, untuk menelusuri patung-patung itu kita dusuguhi jalan yang mendaki. Buat yang mau negksplore tempat ini, musti kuat jalan kakinya yaaw. 😌
Post a Comment

About

authorAssalamualaikum. Saya Yani, seorang blogger yang bekerja di dunia Arsitektur.
Selengkapnya →



Newsletter