Minggu, 20 November 2016

Arsitek di Kelas Inspirasi Palu

Kelas Inspirasi adalah salah satu gerakan sosial yang erat kaitannnya dengan pendidikan, dimana para profesional di bidang pekerjaannya terjun langsung ke sekolah anak SD yang memprihatinkan di kotanya untuk memberikan motivasi kepada anak-anak dan memaparkan profesi mereka sehingga anak-anak bangkit gairahnya untuk mencapai cita-cita mereka. Kelas Inspirasi ini sendiri sudah tersebar di seluruh penjuru kota di Indonesia mulai Sabang sampai Merauke. Dan kali ini, aku sangat beruntung karena bisa mengikuti gerakan sosial Kelas Inspirasi ini. FYI, kelas inspirasi adalah gerakan yang dibentuk oleh kawan-kawan di Indonesia Mengajar yang diprakarsai oleh Pak Anis Baswedan. Lanjut, kelas inspirasi yang kuikuti adalah kelas inspirasi yang diadakan di Kota Palu, dimana kegiatan ini juga merupakan kegiatan perdana yang diselenggarakan di Kota Palu.


Sama dengan kelas inspirasi di kota-kota lain, di kota Palu pun untuk awalnya aku mendaftar untuk seleksi tenaga relawan pengajar. Sampai tiba hari kita diumumkan, alhamdulillah ternyata aku lulus. Setelah itu, para relawan diundang untuk hadir pada saat briefing. Bagi yang belum mempunyai pengalaman mengajar sama sekali, aku sangat sarankan untuk mengikuti kegiatan briefing ini, karena pada tahap ini, kita para relawan akan dibekali ice breaking, metode pengalihan (jika anak-anak mulai tidak fokus) sampai ke berbagai macam senam dan tepuk untuk diterapkan kepada anak-anak. Selain itu juga, kita dikumpulkan bersama teman-teman setim kita untuk membahas mengenai persiapan menuju hari inspirasi. Untuk timku sendiri, yakni tim SDN Inpres Buluri Palu, kami membahas masalah kendaraan yang akan dipakai menuju lokasi SD, tema, sampai mengatur pertemuan di meet up berikutnya. Karena sangat antusias dengan kegiatan ini, aku menawarkan rumahku sendiri kepada timku untuk dipakai sebagai tempat kita meet up berikutnya. Dan alhamdulillah teman-temanku menyetujui.


Situasi pada saat briefing di Auditorium Kantor Walikota Palu

Kita meet up lagi di hari yang telah ditentukan, dan kita langsung mengeksekusi bahan dan material yang telah dibeli oleh salah seorang dari tim kami. Aku kebagian jatah menggambar toples impian. Yaps, toples, soalnya pohon sudah terlalu mainstream. Adapun teman-teman yang lainnya, ada yang dapat jatah mengerjakan candy cita-cita, mengerjakan pita cupcake sebagai name tag anak-anak, ada juga yang mengurus spanduk, kado, dll. Semuanya kita bagi rata, dan jujur saja aku senang sekali bisa bekerja sama dengan timku ini. Ada yang dari background kesehatan, bank, pendidik, bahkan ada pramugari. Hehe.

Tiba di hari H, yakni tanggal 19 November 2016 di hari inspirasi kami berangkat menuju SDN Buluri. Sesuai dengan kesepakatan, kita memakai kendaraan masing-masing. Berhubung aku tidak punya kendaraan yang bisa dipakai, terpaksa aku nebeng kendaraan bersama salah seorang teman setimku. Awalnya aku pikir, kendaraan yang akan kunaiki dengan temanku adalah motor. Tapi ternyata bukan, alhamdulillah teman setimku membawa mobilnya sehingga aku tidak terbebani oleh isi tasku yang berat ditambah dengan karton manila A1 yang kubawa dan helm proyek. Segera kita meluncur ke meeting point kita di hotel Swiss Bell Silae, dan langsung menuju ke lokasi SDN Inpres Buluri.

Siswa SDN Inpres Buluri saat senam pinguin

Sesampainya di SD Buluri, untuk opening dihadapan anak-anak, kita memutuskan untuk melakukan senam pinguin yang tentu saja dilakukan bersama anak-anak SD. Kemudian, dilanjutkan dengan perkenalan dengan kakak-kakak relawan yaitu tim kami, Buluri. Aku sendiri memperkenalkan profesiku kepada anak-anak secara tersirat. Kuberitahukan kepada mereka bahwa aku bekerja banyak bergelut dengan gambar dan bangunan sehingga mereka bisa menebak sendiri pekerjaanku apa. Hal ini aku lakukan agar di kelas yang aku masuki nanti, aku bisa mengetahui dengan betul apakah mereka sudah pernah mengenal kata arsitek atau belum. Lalu setelah perkenalan, kita lanjut lagi ke senam Aku Pasti Bisa. Alhamdulillah, semua anak-anak sangat antusias dengan pengarahan yang kami berikan.

Aku sedang memperkenalkan diri didepan anak-anak

Setelah itu, kami masuk menuju kelas masing-masing sesuai jadwal yang telah ditentukan. Adapun kelas yang menjadi jadwalku adalah kelas 3 di jam pertama, dan kelas 4 di jam kedua. Apa yang akan kusampaikan di kedua kelas tsb adalah sama. Pertama kali di kelas, aku mencoba memberikan tantangan kepada mereka yang bisa menebak pekerjaan/ profesi yang kumiliki dengan memperlihatkan helm proyek/ safety yang kugunakan. Dan dari mereka tidak ada satupun yang mengetahui bahwa aku adalah seorang arsitek. Paling mentok jawabannya adalah kuli bangunan. Haha. Bahkan, untuk menyebut kata arsitekpun mereka ada yang masih salah. Lidah mereka seperti kelilit. Karena mereka sama sekali tidak tahu mengenai pekerjaan arsitek, akupun mulai memberikan penjelasan kepada mereka mengenai apa itu arsitek.

Awalnya mereka memperhatikan dengan baik, namun di pertengahan penjelasan, mulai ada yang asyik dengan dunia mereka sendiri. Menegur merekapun tidak bisa dibilang gampang karena mereka masih anak-anak. Aku membuka slide presentasiku di laptop kepada mereka yang banyak menampilkan foto-foto bangunan terkenal di luar negeri, maupun di Indonesia. Dari situ mereka mulai antusias lagi, kemudian ditambah dengan gambar-gambar 2D dan 3D yang aku perlihatkan ke mereka dalam beberapa halaman kertas A4, mereka juga tampak terlihat antusias.

Akupun langsung masuk ke kegiatan berikutnya yakni menggambar rumah impian. Pada sesi ini, mereka mulai sibuk akan aktifitasnya dan fokus terhadap apa yang mereka kerjakan. Karena ada hampir setengah kelas tidak membawa alat tulis, maka akupun membuka aplikasi sketchup yang ada di laptopku. Aku bertanya kepada mereka, "Mau tidak main jadi arsitek? Kita belajar gambar-gambar di laptop?" Sontak semua anak berteriak bahwa mereka mau untuk bermain di laptop. Tapi aku memberitahukan kepada mereka bahwa yang bawa alat tulis, harus menyelesaikan dulu tugas gambar rumah impian mereka. Jika sudah selesai, mereka akan bergantian dengan teman yang sudah bermain di laptop.

Suasana saat menggambar rumah impian

Alhamdulillah mereka tenang dengan pekerjaan masing-masing. Untuk anak yang tidak membawa alat tulis, aku memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara membuat kotak 2D yang kemudian kuubah lagi menjadi kotak 3D. Mereka juga kuperlihatkan bagaimana cara memberikan warna kepada objek. Intinya semua anak kebagian untuk membuat kotak dan memberi warna pada aplikasi sketchup tsb. Tidak lama, anak-anak yang telah menyelesaikan gambarnya langsung menuju ke arahku untuk mengumpulkan gambar rumah impiannya. Langsung saja anak-anak itu bertukar tempat dengan anak-anak yang sudah latihan membuat kotak dan mewarnai pada aplikasi sketchup di laptop. Dan tentu saja pulpen/ pensil yang tadinya telah digunakan oleh anak yang selesai menggambar, selanjutnya dipinjamkan kepada anak yang tidak membawa perlengkapan tulis menulis. Dari sini juga aku ingin menanamkan sikap tolong-menolong kepada mereka. Dan alhamdulillah mereka bisa mengaplikasikan sikap tsb dengan baik.

Menyempatkan selfie saat belajar modeling di sketchup

Di sesi terakhir dan yang paling sakral dari kelas inspirasi ini ialah ketika anak-anak menulis cita-cita mereka di media yang telah kita sediakan. Karena media yang tim kami gunakan adalah candy dan toples impian, maka merekapun menulis impian atau cita-cita mereka pada kertas candy dan ditempelkan pada gambar toples yang telah disediakan. Penutupannya, kami para relawan berkumpul di lapangan untuk membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak. Semua relawan bergantian ke depan memberikan pertanyaan, dan bagi yang berani maju kedepan, mereka akan mendapatkan hadiah. Setelah pembagian hadiah selesai, kami ke ruangan kepala sekolah untuk sharing kesan dan pesan kami kepada kepala sekolah. Untuk aku sendiri, aku memberitahukan kepada kepala sekolah bahwa anak-anak di kelas 3 dan 4 sangat antusias. Namun dipertengahan, ada beberapa anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Dan untuk membuat mereka kembali memperhatikan adalah ketika mereka dipancing dengan hadiah. Jadi dari situasi tsb, aku belajar bahwa setiap anak sebaiknya diberikan pengajaran dengan pengemasan yang menarik sehingga mereka terpancing untuk memperhatikan kita. Tidak lupa juga mereka sebaiknya diberikan penghargaan atas jerih payah yang telah mereka lakukan.

Toples impian, oleh kelas IV SDN Inpres Buluri

Setelah itu, kuberitahukan juga kepada kepala sekolah dan guru-guru bahwa kreatifitas anak-anak banyak yang masih belum keluar. Karena di sesi menggambar tadi, ketika aku menyuruh mereka menggambarkan rumah impian mereka, mereka banyak yang masih menggunakan bentuk kotak dan segitiga layaknya rumah standar. Padahal aku telah memperlihatkan bentuk bangunan yang tidak biasa dan tidak lazim kepada mereka sebagai contoh bahwa kreatifitas itu tidak ada batas, dan apapun mungkin saja untuk terjadi. Jadi, sebaiknya perlu diadakan kegiatan yang mampu mengasah kreatifitas anak-anak, karena salah satu faktor terpenting agar menjadi sukses adalah dengan memiliki kreatifitas yang baik.
Posting Komentar