Kamis, 15 Januari 2015

My Complicated Inspiring Figure

Menurutku, memiliki tokoh yang dapat menginspirasi itu sangat penting. Perubahan-perubahanku yang menjadi lebih baik seperti sekarang, banyak dipengaruhi oleh tokoh tersebut. Namun, sebelum kuberitahukan siapa saja tokoh-tokoh yang kuidolakan itu, izinkan aku menceritakan kisahku dengan seseorang yang menjadi sumber dari perubahanku ini.


Bukan rekayasa, bertemu dengannya diawali ketika kami masing-masing nongkrong di media sosial populer facebook. Pada awalnya ia hanya menegurku di kotak obrolan. Kemudian dari tegurannya itu, berlanjut ke perkenalan yang hasilnya, selain aku tahu bahwa ia sedang menuntut ilmu di negeri orang, ia juga adalah seorang yang religius, cerdas, dan berwawasan luas. Setelah beberapa lama ngobrol dengannya dan merasa asyik, terungkaplah bahwa ia ternyata adalah sepupu dari teman SMA-ku.

Banyak hal mulai dari masalah agama hingga politik, kami bicarakan dalam chat room. Percakapan kami seakan tiada henti ketika kami mulai berdiskusi dan berdebat mengenai suatu topik. Tak jarang kami bertengkar karena berbeda pendapat. Jujur saja, berteman dengannya membuat wawasanku menjadi semakin luas. Aku selalu berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang ia tanyakan padaku, dan begitu pula sebaliknya ketika aku bertanya tentang hal yang tak kuketahui padanya, ia pun selalu berusaha memberikan jawaban dengan baik. Komunikasi kami semakin intens. Tanpa terasa kami pun jadi hafal waktu luang masing-masing untuk chatting.

Tak dapat kupungkiri, aku mulai menyukainya lebih dari seorang teman. Sayangnya perasaanku bertepuk sebelah tangan. Ternyata ia telah memiliki tunangan berdasarkan perkataannya padaku. Kuputuskan untuk mengurangi obrolanku dengannya, bahkan terkesan menjauhinya. Lama kami tak berkomunikasi sejak itu. Hingga suatu saat, ia kembali menyapaku di obrolan dan becerita padaku bahwa dirinya dan tunangannya telah putus karena suatu hal. Kejadian itu pada akhirnya membuatku kembali ingin berkomunikasi lagi dengannya.

Tak lama dari peristiwa itu, ia menyatakan perasaan cintanya untukku. Senang rasanya. Serasa keberuntungan berpihak padaku. Ia menginginkan hubungan kami berlanjut ke arah pernikahan mengingat niatnya memang untuk mencari seorang istri. Jujur saja, menurutku ia terlalu sempurna menjadi seorang suami apalagi untukku. Sampai aku kadang merasa kurang layak untuknya mengingat diriku yang masih memerlukan masukan dari segi intelektual, emosional dan spiritual. Perjalananku masih panjang. Kupikir, inilah saat yang tepat untuk memperbaiki diri agar menjadi pendamping yang cocok untuk dirinya.

Sejak saat itu, aku mulai mengikuti banyak aktifitas diluar kampus. Mulai dari rajin mengikuti pengajian. Aku terpilih menjadi salah satu wakil HUMAS pada komunitas itu. Seminar dan workshop motivasi maupun pengembangan diri, semuanya kubabat habis mulai dari yang gratisan hingga yang membutuhkan biaya besar. Mengikuti banyak kegiatan bermanfaat tersebut membuatku semakin bergairah. Rasanya aku tak pernah seantusias itu sebelumnya.

Walaupun aku mengikuti banyak kegiatan, kami tentu menyempatkan diri untuk saling menyapa dan ngobrol di chat room meskipun hanya sebentar. Sampai suatu hari, ia ingin memutuskan hubungan serius kami. Alasannya cukup klasik, hanya tidak ingin terjebak dengan perasaan cinta yang takutnya akan menjadikan dirinya sebagai budak dari hawa nafsu. Selain itu, ia juga ingin menjaga perasaanku agar tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk (hawa nafsu). Entahlah. Berpikir positif saja, menurutku mungkin alasan itu tercipta karena dirinya menjadi semakin religius. Percaya atau tidak, itu memang terjadi. Panjang perdebatan diantara kami. Tak perlu kujelaskan, intinya kami putus.

Setelah putus dengannya, banyak kegiatan yang kulakukan sehingga menjadikan diriku lebih baik dari sebelumnya. Aku rajin membaca buku motivasi dan pengembangan diri. Pelampiasanku banyak kuhabiskan di kegiatan-kegiatan seminar dan workshop. Tak jarang pula aku mengikuti kegiatan sosial jika ada.

Dari pengalamanku itu, aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang sangat layak untuk dijadikan mentor. Sebut saja BJ Habibie, Merry Riana, Najwa Shihab, Wahyu Aditya, Suciwati Munir, Chikita Fawzi dan masih banyak lagi. Kesemuanya itulah yang menjadi tokoh idolaku dan menjadi tokoh inspirasiku hingga sekarang. Dari BJ Habibie, aku belajar arti sebuah pengabdian untuk tanah air. Dari Merryy Riana, aku belajar untuk berani bermimpi besar. Dari Najwa Shihab, aku tertantang untuk belajar banyak mengenai dunia jurnalistik. Dari Wahyu Aditya, aku belajar arti dari sebuah kreatifitas. Dari Suciwati Munir, aku belajar arti berbagi dan belajar untuk memiliki jiwa sosial. Dan dari Chikita Fawzi, aku belajar menghargai suatu karya.

Terlepas dari itu semua, walaupun sempat 'bersakit-sakit' karena kejadian kemarin, faktanya sekarang aku menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Siapa yang tahu, apakah ia serius atau tidak dengan maksudnya itu. Motifnya menjadi tidak penting lagi bagiku sekarang. Kuakui, dialah dalang dari semua perubahanku ini. Pertanyaannya, apakah ia juga termasuk tokoh inspirasiku setelah empat tahun ini? It's complicated.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Artikel Blog Periode 1-2015
Posting Komentar